Sabtu, 02 April 2011

Lelaki Senja

Gambar. Bola duri


Menurut anda lelaki senja itu apa? Lelaki yang sudah berumur senja alias lelaki tua bangka. Kalau itu pendapat anda tentang lelaki senja, oh tentunya salah besar. Mungkin karena dua kata ini kata yang ambigu, saya tidak akan menyalahkan anda berpendapat apa saja tentang lelaki senja. Pendapat anda akan saya terima dengan lapang rasa.
Definisi saya tentang lelaki senja adalah seorang pria yang bersama saya dan berbuat baik pada saya saat menjelang senja tiba. Senja dalam makna matahari akan terbenam. Semua lelaki sebenarnya tidak jahat, ada yang baik. Namun baik dan jahat beragam sekali takarannya. Setiap orang pasti memiliki takaran baik dan jahat yang berbeda. Bahkan anda dan saya tentunya memiliki patokan untuk menilai sesorang itu baik dan jahat.
Saya memberi nama lelaki senja pada seorang pria berkaos putih, bertopi coklat muda dan berlindung di dalam jeep berwarna coklat muda seperti topi yang dikenakannya. Saat itu saya naik sepeda dari kampus, saat hendak menyebrang jalan saya berpapasan dengan jeep pria itu. Saya pun berhenti saja mengalah, namun pria didalam jeep itu tersenyum manis dan menganggukkan kepala nya. Jeep tunggangannya pun berhenti, menandakan saya diijinkan lewat dahulu. Saya pun binggung, karena jarang sekali di Jogjakarta saya menemukan orang yang rela berhenti dan mempersilahkan orang lain lewat dahulu. Saya pun mengganggukan kepala dengan embel-embel senyum kepada pria itu. Saya lewat dan senyum  pria itu saya hargai sehingga terlahirlah nama lelaki senja. Bukan senyum pura-pura tapi murni. Senyum nya terpancar bijak seolah-olah semua organ tubuhnya sedang menyandang status baru yaitu semua sel tubuhnya telah melewati regenerasi. Semoga besok bisa bertemu lagi tapi jika pertemuaan bukan milik saya, maka pertemuan menjadi sekaligus  perpisahan.
Hampir dua tahun berlalu saya bersama teman saya berjanjian untuk bertemu menikmati senja. Seorang pria yang berselisih umur hanya dua tahun sepertinya. Pantai Parangkusumo menjadi pilihan. Awalnya senja belum mau menampakkan tanda-tanda akan berpenampilan molek. Maklum masih jam lima sore hanya mega mendung yang berarak menutupi kehadiran matahari sore. Pria itu mengajak saya menikmati senja melewati jalan di tengah persawahan. Cukup segar dan mengasyikkan. 

“Kok berbalik arah?” tanya saya

“La jembatannya masih putus belum dibenahi, tak kira sudah diperbaiki ternyata belum” jawab pria itu sambil memutar arah motornya. 

Waktu tidak perlu dikejar sudah tiba didepan mata. Senja mulai perlahan menepi di ujung barat lautan. Tidak banyak perbincangan kami yang tercipta. Hanya diam dan menikmati senja yang hampir berlalu menerangi bumi belahan lain. Mungkin itu cara yang baik. Ya, saya tidak menamainya lelaki senja karena tidak ada senyum dan kebaikan saat senja.
Senja, mega yang bermarathon berlabuh di ujung bumi menghantarkan pekerjaan surya untuk memberi kehidupan di tempat lain. 
                                                     Gambar. Senja merekahkan malam
Gambar. Pria yang berusaha menyimpan moment senja sore itu


Tidak ada komentar:

Posting Komentar