suara itu terdengar, menanyakan secara tidak langsung
apakah kau baik-baik saja?
ah, mimpi yang baru saja ku rasakan
dinginnya pagi menembus epidermis kaki
tanda bukan sebuah bayangan di awan tidur
seperti ada petir yang memulai musim hujan, setelah lama kekeringan uap air
tanpa disadari perkataan yang keluar terulang-ulang
empat menit hanya beraktivitas mengulang pertanyaan yang sama dan percakapan dingin
"kau merasakan ada gempa di fajar tadi dan ku jawab, iya terasa seperti diayun-ayun "
repeat and again
semoga rahasia itu tidak kau ketahui
nafas biru
Minggu, 03 April 2011
Sabtu, 02 April 2011
Lelaki Senja
| Gambar. Bola duri |
Menurut anda lelaki senja itu apa? Lelaki yang sudah berumur senja alias lelaki tua bangka. Kalau itu pendapat anda tentang lelaki senja, oh tentunya salah besar. Mungkin karena dua kata ini kata yang ambigu, saya tidak akan menyalahkan anda berpendapat apa saja tentang lelaki senja. Pendapat anda akan saya terima dengan lapang rasa.
Definisi saya tentang lelaki senja adalah seorang pria yang bersama saya dan berbuat baik pada saya saat menjelang senja tiba. Senja dalam makna matahari akan terbenam. Semua lelaki sebenarnya tidak jahat, ada yang baik. Namun baik dan jahat beragam sekali takarannya. Setiap orang pasti memiliki takaran baik dan jahat yang berbeda. Bahkan anda dan saya tentunya memiliki patokan untuk menilai sesorang itu baik dan jahat.
Saya memberi nama lelaki senja pada seorang pria berkaos putih, bertopi coklat muda dan berlindung di dalam jeep berwarna coklat muda seperti topi yang dikenakannya. Saat itu saya naik sepeda dari kampus, saat hendak menyebrang jalan saya berpapasan dengan jeep pria itu. Saya pun berhenti saja mengalah, namun pria didalam jeep itu tersenyum manis dan menganggukkan kepala nya. Jeep tunggangannya pun berhenti, menandakan saya diijinkan lewat dahulu. Saya pun binggung, karena jarang sekali di Jogjakarta saya menemukan orang yang rela berhenti dan mempersilahkan orang lain lewat dahulu. Saya pun mengganggukan kepala dengan embel-embel senyum kepada pria itu. Saya lewat dan senyum pria itu saya hargai sehingga terlahirlah nama lelaki senja. Bukan senyum pura-pura tapi murni. Senyum nya terpancar bijak seolah-olah semua organ tubuhnya sedang menyandang status baru yaitu semua sel tubuhnya telah melewati regenerasi. Semoga besok bisa bertemu lagi tapi jika pertemuaan bukan milik saya, maka pertemuan menjadi sekaligus perpisahan.
Hampir dua tahun berlalu saya bersama teman saya berjanjian untuk bertemu menikmati senja. Seorang pria yang berselisih umur hanya dua tahun sepertinya. Pantai Parangkusumo menjadi pilihan. Awalnya senja belum mau menampakkan tanda-tanda akan berpenampilan molek. Maklum masih jam lima sore hanya mega mendung yang berarak menutupi kehadiran matahari sore. Pria itu mengajak saya menikmati senja melewati jalan di tengah persawahan. Cukup segar dan mengasyikkan.
“Kok berbalik arah?” tanya saya
“La jembatannya masih putus belum dibenahi, tak kira sudah diperbaiki ternyata belum” jawab pria itu sambil memutar arah motornya.
Waktu tidak perlu dikejar sudah tiba didepan mata. Senja mulai perlahan menepi di ujung barat lautan. Tidak banyak perbincangan kami yang tercipta. Hanya diam dan menikmati senja yang hampir berlalu menerangi bumi belahan lain. Mungkin itu cara yang baik. Ya, saya tidak menamainya lelaki senja karena tidak ada senyum dan kebaikan saat senja.
Senja, mega yang bermarathon berlabuh di ujung bumi menghantarkan pekerjaan surya untuk memberi kehidupan di tempat lain.
Gambar. Senja merekahkan malam
| Gambar. Pria yang berusaha menyimpan moment senja sore itu |
Rabu, 30 Maret 2011
Menjemput harapan di pantai Timang
Foto. Kegiatan anak-anak di pantai Timang
Pertemuan itu bukan dari sebuah komunikasi antara saya dan mereka. berawal dari kepenatan menjajaki kegiatan rutin sebagai buruh ilmu. menerima ajakan seorang teman Kuncung Bawuk namanya yang sekarang kerja di rumah budaya Tembi Bantul. sesama manusia yang hobi menyusuri lekuk-lekuk keindahan alam yang selalu jujur menampakkan kehidupannya. susur pantai di sepanjang pantai dari pantai Timang hingga pantai Sundak dengan bebas polusi. cukup menggunakan apa yang sudah Tuhan berikan saat mengizinkan saya mencicipi kenikmatan dan kekuasaan di dunia.
Berbekal keberanian dan tekad yang liat dalam benak kami berlima.menaiki bus jurusan terminal Wonosari cukup menggoyangkan lembaran berwarna jambon dan pak kernet akan mengembalikan lembaran kertas dengan angka satu posisi terdepan ditemani angka nol berjumlah tiga buah.
Ternyata bus yang kami naiki tadi mau menghantarkan kami ke pantai Timang dengan upah seratus ribu, tentunya ada negoisasi antara kami sebagai penumpang. itulah khas sifat orang Jawa.
Dari perkampungan kami lanjutkan dengan berjalan kurang lebih tiga kilometer, tidak ada bus masuk kawasan tersebut karena jalan yang berbatu tumpul. aroma dedaunan tanpa ijin kami menerobos dalam paru-paru kami. kesegaran bermunculan dimana-mana tiap sudut ruang liar. deburan ombak dari arah depan kami menggempur daun telinga kami. pulau biru yang tenang sudah terlihat. namun, kehausan kami tak terasa karena sepanjang langkah kami diiringi rintik-rintik air yang sangat murni.
Tak perlu makan dulu karena air telah menarik jiwa kami untuk menyatu denganya, Segara. terlihat enam orang remaja lelaki yang bertelanjang dada sibuk mempersiapkan ritual mereka. bukan ritual sebenarnya, hanya kegiatan penghiburan ala anak desa. raut wajah mereka saya pandangi satu-persatu walaupun dengan perbesaran lensa mata saya yang berbeda-beda sebab letak mereka sedikit jauh.
Sebelum memancing dilakukan, mereka bermandi dahulu sambil menghempaskan seluruh kegembiraan mereka. FREEDOM. yah, itu yang mereka rasakan. tak ada yang melarang mereka untuk ini dan itu. celana jeans dan cd saja yang mengikat badaniah mereka. harapan untuk mendapatkan seekor ikan dari hasil jerih payah mereka sendiri. tangan dan kecerdikan mereka memancing.
Tidak jauh dari tempat saya mengamat-amati mereka, duduk dengan rapi dan sedikit layu. topi MERAH PUTIH, topi yang selalu dikenakan saat upacara hari senin di sekolah dasar. basah namun dalam posisi tegak berdiri menghadap laut. bersih. di laut mereka secara langsung dapat belajar banyak akan segala hal. dengan kelima panca indera mereka. tanpa paksaan ataupun larangan sedikitpun. alam adalah ruang sekaligus guru terjujur di lingkup fana.saya yakin di pantai timang ini mereka tidak akan mengadaikan waktu mereka hanya untuk bermain-main saja. ilmu memancing, berenang, akan mereka dapatkan secara gratis. alam yang mengajarkannya.
saya sangat setuju jika keindahan dibalik bukit kapur ini hanya milik mereka saja. dan biarlah seperti itu adanya. keharmonisan ekosistem yang ada terjaga. mereka adalah orang benar.
bersambung
Selasa, 29 Maret 2011
Blue
melarikan suara parau pada kekuatan pagi
berteriak basah, menghancurkan kebisingan asa
meracuni mega senja, dengan kicauan burung sriti
melukiskan harapan malam, di tepian Kali Code
mencuri energi setengah dari aliran sungaimu
menarik segala keporak-poranda pola hidup
sebagai penebusan sesal
blue sky terperangkap mata
menabuh riak murung hingga lahir ke dunia
blue sky, bersimpah rindu
teh dekok dua ribu rupiah pendamping kepahitan hati
Jogja, Lensa_yem
berteriak basah, menghancurkan kebisingan asa
meracuni mega senja, dengan kicauan burung sriti
melukiskan harapan malam, di tepian Kali Code
mencuri energi setengah dari aliran sungaimu
menarik segala keporak-poranda pola hidup
sebagai penebusan sesal
blue sky terperangkap mata
menabuh riak murung hingga lahir ke dunia
blue sky, bersimpah rindu
teh dekok dua ribu rupiah pendamping kepahitan hati
Jogja, Lensa_yem
Langganan:
Postingan (Atom)