Pertemuan itu bukan dari sebuah komunikasi antara saya dan mereka. berawal dari kepenatan menjajaki kegiatan rutin sebagai buruh ilmu. menerima ajakan seorang teman Kuncung Bawuk namanya yang sekarang kerja di rumah budaya Tembi Bantul. sesama manusia yang hobi menyusuri lekuk-lekuk keindahan alam yang selalu jujur menampakkan kehidupannya. susur pantai di sepanjang pantai dari pantai Timang hingga pantai Sundak dengan bebas polusi. cukup menggunakan apa yang sudah Tuhan berikan saat mengizinkan saya mencicipi kenikmatan dan kekuasaan di dunia.
Berbekal keberanian dan tekad yang liat dalam benak kami berlima.menaiki bus jurusan terminal Wonosari cukup menggoyangkan lembaran berwarna jambon dan pak kernet akan mengembalikan lembaran kertas dengan angka satu posisi terdepan ditemani angka nol berjumlah tiga buah.
Ternyata bus yang kami naiki tadi mau menghantarkan kami ke pantai Timang dengan upah seratus ribu, tentunya ada negoisasi antara kami sebagai penumpang. itulah khas sifat orang Jawa.
Dari perkampungan kami lanjutkan dengan berjalan kurang lebih tiga kilometer, tidak ada bus masuk kawasan tersebut karena jalan yang berbatu tumpul. aroma dedaunan tanpa ijin kami menerobos dalam paru-paru kami. kesegaran bermunculan dimana-mana tiap sudut ruang liar. deburan ombak dari arah depan kami menggempur daun telinga kami. pulau biru yang tenang sudah terlihat. namun, kehausan kami tak terasa karena sepanjang langkah kami diiringi rintik-rintik air yang sangat murni.
Tak perlu makan dulu karena air telah menarik jiwa kami untuk menyatu denganya, Segara. terlihat enam orang remaja lelaki yang bertelanjang dada sibuk mempersiapkan ritual mereka. bukan ritual sebenarnya, hanya kegiatan penghiburan ala anak desa. raut wajah mereka saya pandangi satu-persatu walaupun dengan perbesaran lensa mata saya yang berbeda-beda sebab letak mereka sedikit jauh.
Sebelum memancing dilakukan, mereka bermandi dahulu sambil menghempaskan seluruh kegembiraan mereka. FREEDOM. yah, itu yang mereka rasakan. tak ada yang melarang mereka untuk ini dan itu. celana jeans dan cd saja yang mengikat badaniah mereka. harapan untuk mendapatkan seekor ikan dari hasil jerih payah mereka sendiri. tangan dan kecerdikan mereka memancing.
Tidak jauh dari tempat saya mengamat-amati mereka, duduk dengan rapi dan sedikit layu. topi MERAH PUTIH, topi yang selalu dikenakan saat upacara hari senin di sekolah dasar. basah namun dalam posisi tegak berdiri menghadap laut. bersih. di laut mereka secara langsung dapat belajar banyak akan segala hal. dengan kelima panca indera mereka. tanpa paksaan ataupun larangan sedikitpun. alam adalah ruang sekaligus guru terjujur di lingkup fana.saya yakin di pantai timang ini mereka tidak akan mengadaikan waktu mereka hanya untuk bermain-main saja. ilmu memancing, berenang, akan mereka dapatkan secara gratis. alam yang mengajarkannya.
saya sangat setuju jika keindahan dibalik bukit kapur ini hanya milik mereka saja. dan biarlah seperti itu adanya. keharmonisan ekosistem yang ada terjaga. mereka adalah orang benar.
bersambung
Tidak ada komentar:
Posting Komentar